Kamis, 28 April 2011

Laporan Praktikum Urin Kuantitatif


LAPORAN PRAKTIKUM BIOKIMIA DASAR
ACARA IV
URIN KUANTITATIF






Disusun oleh:
Kelompok VII
Firman Hananto                               PT/05802
Ahmad Nurrudin                              PT/05837
RIdho M. P.                                       PT/05909
Tri Kartika Sari                                  PT/05846
Sahnita Regina Ginting                  PT/05852

Asisten          : Deasi Fitriani

LABORATORIUM BIOKIMIA NUTRISI
BAGIAN NUTRISI DAN MAKANAN TERNAK
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2011
ACARA IV
URIN KUANTITATIF


Tujuan Praktikum
            Tujuan dilaksanakan praktikum ini adalah untuk menentukan kadar khlor (Volhard) dalam urin sapi.


Tinjauan Pustaka
            Urin adalah cairan esensial dari hasil metabolisme nitrogen dan sulfur, garam-garam anorganik dan pigmen-pigmen (zat warna). Biasanya urin dieksresikan secara rutin tiap hari. Jumlah dari pengeluaran ini bervariasi, biasanya bergantung pakan, kerja, temperatur, lingkungan, konsumsi air, dan musim. Didalam tubuh, urin ditampung dalam kandung kemih melalui ureter. Kandung kemih ini bersifat dapat mengembang ( Kustono, 1997 ).
            Air yang keluar dari ginjal disebut urin dan jumlahnya bervariasi tergantung dari banyak faktor antara lain: volume dan susunan cairan tubuh, jumlah air yang masuk, jumlah air yang keluar lewat saluran atau jalan lain, jumlah hasil metabolisme dan hasil akhir yang mengandung nitrogen atau urea (Kamal, 1999).
            Beberapa khlor yang terdapat dalam pada urin sebagian besar berasal dari makanan yang dimakan ternak. Semakin besar kandungan khlor dalam bahan pakan maka kadar khlor yang kadar khlor dalam urin juga akan meningkat (Murray et al.,2003).
            Apabila urin pekat, terjadi retensi air dibandingkan zat terlarut dan bila urin encer, terjadi ekskresi air yang lebih dibandingkan zat terlarut. Kedua hal ini memiliki arti penting dalam konservasi dan pengaturan osmolalitas cairan tubuh. Pengaturan ekskresi air terutama dilakukan oleh hormon vasopresin yang berkerja pada duktus kolingentes (Ganong, 2003).
            Perbedaan kandungan Cl dalam urin dapat disebabkan karena perbedaan ginjal, misalnya perubahan jumlah yang difiltrasi dan reabsorbsi dalam tubulus, kadar aldesteron dalam darah dan hormon-hormon adrenokorteksialin dan hormon neuratik (Ganong, 2003).

Materi dan Metode


Materi
            Alat. Alat yang digunakan dalam pratikum ini antara lain tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur, timbangan, api spiritus, buret, kertas saring, gelas piala, dan gelas enlemayer.
            Bahan. Bahan yang digunakan dalam praktikum ini antara lain kertas saring larutan perak nitrat standar, larutan sulfosianat, larutan feri-amonium sulfat, urin sapi peranakan FH (PFH), HNO3 pekat, AgNO3, air suling, Indikator Feri Aliun, Dan Ammonium tiosianat.


Metode
            Penentuan kadar khlor (Volhard) dalam urin. Labu takar 50 ml ditambah dengan 10 ml urin melalui pipet tetes, kemudian diteteskan HNO3 1 ml lalu dituangkan perlahan lahan20 ml larutan standar AgNO3 dari gelas ukur sambil digoyangkan, setelah itu diencerkan dengan dengan air suling sampai tanda. Selanjutnya digojog dan disaring dengan kertas saring lalu filtrat ditampung digelas piala. Sebanyak 25 ml filtrat diambil dan dimasukkan kedalam gelas Enlemayer lalu ditambahkan 6 ml indikatorr feri aluin, selanjutnya titrasi dengan ammonium tiosianat sampai timbul warna merah.
            Untuk mengetahui beberapa gram NaCl yang terdapat dalam 10 ml urin dipergunakan rumus sebagai berikut:
(20 – 2X) x 0,01 = gram NaCl
            Variabel X dalam rumus menyatakan jumlah ml tiosianat yang digunakan untuk menitrasi.


Hasil dan Pembahasan


            Penentuan  Uji  Khlor  (Volhard)  dalam  urin.  Larutan  menjadi  keruh  berwarna  putih transparan saat  urin  ditetesi  HNO3, kemudian setelah ditambahkan  larutan  AgNO3 dari buret atau secara perlahan-lahan larutan tetap keruh dan muncul endapan putih berukuran kecil. Munculnya endapan berwarna  putih  disebabkan  karena  adanya  endapan  AgCl.
      Reaksinya : NaCl + AgNO3 (berlebih)  ­­  AgCl(s)  +  NaNO3
Endapan yang terjadi bukanlah endapan perak fosfat karena telah dicegah oleh HNO3 yang diberikan sebelumnya. Volume   larutan  NH4CNS  yang  dibutuhkan untuk membuat larutan tersebut menjadi merah adalah  4,5  ml  larutan ammonium tiosionat  untuk  sampel  urin  sapi  PFH.
Reaksinya hingga dapat menjadi merah adalah
      AgNO3 (sisa) +  NH4CNS               NH4NO3  +  AgCNS
NH4CNS   +  FeNH4(SO4)2                kompleks feri-sulfosianat (merah)
            Berdasarkan hasil perhitungan dengan rumus menentukan kadar  NaCl didapatkan dalam urin sapi FH terdapat 0,11 gram NaCl/5 ml dan kadar Cl yang terdapat adalah 0,066 gram/5 ml. Jika dilihat per 100 ml urin maka terdapat 1 gram NaCl/100 ml dan kadarnya adalah 0,6 gram/100 ml. Berdasarkan percobaan juga dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan kadar urin sapi PFH dengan sapi PO. Terlihat pada sapi PO larutan NH4CNS yang dibutuhkan untuk membuat larutan menjadi merah lebih sedikit, yaitu sekitar 1,2 ml. Maka dengan perhitungan yang sama didapatkan gram NaCl yang terdapat pada sapi PO lebih banyak, yaitu 1,52 g NaCl/100 ml dan untuk kadarnya 0,92 gram/100ml.
            Pada keadaan normal terkandung 1,5 – 1,6   gram NaCl di dalam 100ml urine dan  perbedaan  kadar   NaCl  dalam  urin  ditentukan  oleh  beberapa  faktor  seperti  kondisi  kesehatan  ternak,  konsumsi  pakan,  air,  dan  kondisi  darah (Evelyn, 1993).


Kesimpulan


            Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dari percobaan dapat diketahui terdapat perbedaan kadar urin dalam percobaan dengan kisaran normal yaitu pada 100 ml urin normal terkandung sekitar 0,11 gram NaCl, sedangkan pada percobaan didaptkan dalam 100 ml urin urin untuk sapi PFH terdapat 1 gram NaCl dan kadar Cl yang terdapat didalamnya adalah  0,6 gram. Hal itu disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kondisi kesehatan ternak, dan pakan yang diberikan.

Daftar Pustaka


Avelyn, C.P. 1993. Untuk Anatomi dan Fisiologi Paramdis.Jakarta:Gramedia
Ganong, W.F. 2003. Fisiologi Kedokteran. Penerbitan Buku kedokteran: Jakarta.
Kamal, M. 1999. Nutrisi Ternak Dasar. Laboratorium Makanan ternak. Jurusan Nutrisi dan Makanan Ternak. Fakultas Peternakan UGM: Yogyakarta.
Murray, Robert, K. Darylk, Granner, Peter, A. mayos, Victor, W. Rodwell. 2003. Biokimia Harper. EGC: Jakarta.
Kustono. 1997. Fisiologi Ternak Dasar. Fakultas Peternakan UGM: Yogyakarta.

Lampiran


Perhitungan :
Gram NaCl    = (20 – 2X) x 0,01
                        = (20 – 2 x 4,5) x 0,01
                        = 11 x 0,01
                        = 0,011 gr/ 5 ml

Kadar Cl         = BA  Cl   x g NaCl
                           BM  NaCl
                        = 35,5 x 0,011
                           58,5
                        = 0,066 g/50ml

Tidak ada komentar:

Posting Komentar